WIWIN DONGENG MANAGEMENT FANS

Kawah Kepemimpinan Pelajar Kemendikbud 2017

Live with Passion by Winson the Storyteller Family

Corruption - The Poison In Our Air?

Timun Emas

Aksi Teatrikal Keuarga Pendongeng

Miss Wiwin & Anabel di Idenesia Metro TV

Winson The Storyteller Family

"Timun Emas" Folkrock Mini Opera

Que Sera Sera by Anabel Pendongeng Cilik

Dongeng Radio si Tupai dan si Monyet

Anabel La Winson - What a Wonderful World

Contoh Ice breaking dongeng rock & roll kak Sony Key & Miss Wiwin

Tuesday, February 24, 2009

Mr. Pepenk


Tubuhnya tinggi kurus, kacamatanya minus tebal, kemana-mana selalu membawa ukulele, ya dialah sosok idealis yang berjuluk Mr. Pepenk. Dari pagi sampai sore kita bisa melihat aksinya di bus Patas 2 untuk mengamen. Dia tidak pernah takut pergi kemana-mana walau dikantung tak sepeserpun uang tersisa selama masih ada teman setianya yang sangat berjasa, si ukulele butut. Suaranya yang khas, lagu-lagu parodinya yang selalu menggelitik dan kadang menyentil membuat kehadirannya selalu ditunggu-tunggu para penumpang yang rutin memakai jasa bus kota.

Pada suatu hari para penumpang bus patas 2 merasa kehilangan, pasalnya Mr. Pepenk tidak tampak batang hidungnya. Sehari dua hari para penumpang mencari-cari tapi dia tetap tidak muncul juga. Seminggu, sebulan, setahun Mr Pepenk seolah hilang ditelan bumi. Lama-kelamaan para penumpang mulai melupakannya. Mungkin dia pulang kampung, mungkin dia pindah jalur bis yang lebih banyak memberikan recehan atau bahkan ada yang menduga bahwa Mr. Pepenk ditembak polisi atau berkelahi dengan preman yang berujung maut. Apapun yang terjadi kita semua cuma bisa menduga-duga. Waktu berjalan begitu cepat, pengamen datang dan pergi silih berganti. Masing-masing membawa cerita hidupnya masing-masing. Begitu juga para penumpang, ada yang masih setia dengan bus patasnya, ada yang mulai kredit motor dan ada yang kalah karena di PHK atau karena sebab-sebab lain yang kompleks. Ibu kota dengan segala hiruk pikuknya bagaikan lampu neon di malam hari, selalu mengundang laron untuk datang. Warna-warni pesonanya selalu menarik setiap orang untuk menghampiri walau tidak sedikit yang tahan dengan panasnya lantas terbakar dan mati. Hidup terus mengalir, musim kemarau, musim hujan, banjir, musim kemarau lagi begitu seterusnya … Jakarta berlari makin cepat, semua terengah-engah berupaya mengejarnya. Jutaan orang tertinggal dan terduduk sepi dipinggir-pinggir kesempatan yang ringkih.

Siang hari dipertengahan musim penghujan para penumpang bus patas 2 tiba-tiba bersorak ketika sosok tinggi kurus menaiki bus dan langsung melantunkan sebuah lagu. Suara khasnya melengking, para penumpang bertepuk tangan. Pak sopir berkali-kali melirik sambil tersenyum. Mr. Pepenk telah kembali. Kerinduan para penumpang membludak seakan kekasihnya yang lama hilang telah kembali kedalam pelukan. Dia dielu-elukan seakan penyanyi pujaan yang come back. Selanjutnya, hari demi hari penumpang bus tidak lagi suntuk, perjalanan pergi dan pulang kerja selalu ditemani suara khas Mr. Pepenk. Dia telah kembali mengisi hati para pengagumnya dengan keceriaan.

Biasanya orang terusir dari kota metropolitan lantaran kalah bertaruh nasib. PHK, usaha bangkrut dan bermacam-macam sebab yang membuat orang pulang kampung halaman sebagai orang kalah. Mereka tidak mendapat tempat di kota yang selalu menyisakan kursi empuk buat orang-orang tegar dan sukses. Tapi kenapa Mr. Pepenk kembali lagi ke Jakarta, bukankah dia telah kalah setahun yang lalu? Ternyata kita salah memprediksi, Mr. Pepenk ternyata justru kalah di kampung halamannya atau lebih tepatnya kampung halaman istrinya. Setahun yang lalu dia pulang kampung dengan membawa segepok uang hasil mengamen buat dipersembahkan kepada anak dan istri tercinta. Setelah berembug maka disepakati bahwa uang tersebut dipakai modal untuk bertanam bawang merah. Desa mereka sejak dulu memang terkenal sebagai lumbung komoditas bawang merah. Mr. Pepenk yang tidak punya pengalaman di bidang pertanian pun tidak mau kalah. Dia menjadi petani kagetan. Mereka sekeluarga berhitung dan berandai-andai berapa keuntungan kelak dari hasil panen yang akan diraup. Tapi apa mau dikata, dua bulan setelah tanam, cuaca berkata lain, kampung mereka yang selama ini tidak pernah terkena banjir, malam itu diterjang banjir bandang. Tanpa mengenal kasihan diterjangnya rumah-rumah penduduk, sawah-sawah dan ladang. Semua habis dalam hitungan menit. Global warming effect. Harapan dan cita-cita yang telah dipelupuk mata, menguap. Mereka pun kandas. Mr. Pepenk terduduk diam, matanya berkaca-kaca. Harapan untuk berkumpul dengan anak dan istri untuk jangka waktu lama tampaknya bakal tertunda lagi. Dia harus memulai segalanya dari nol yang berarti balik ke Jakarta mengumpulkan receh demi receh di atas bus kota, seperti tahun kemarin.

“Berlarilah dan terus tertawa. Bahwa dunia tak seindah surga. Bersyukurlah pada yang Kuasa. Cinta kita kita di dunia …. Selamanya, selamanya …..”, lengking suara Mr Pepenk menyanyikan lagu Nidji. Lagu yang dinyanyikan dengan emosional itu seolah mewanti-wanti dirinya sendiri agar selalu tegar, agar selalu ceria menjalani hari-hari yang keras. Semua lagu pasti ada akhir. Mr. Pepenk diam-diam menerawang, wajah anak dan istrinya samar-samar muncul, melambai-lambai. “aku akan datang wahai para terkasih, aku akan datang dengan harapan baru …”, gumamnya pelan. Lantas ia pun turun dari bus sambil tidak lupa mengucapkan terima kasih kepada penumpang, kondektur dan pak sopir. Berlari, melompat berganti bus kota yang lain. Persetan dengan klakson mobil mewah yang hampir menabraknya. Dari kejauhan suara khas Mr. Pepenk melengking bersenandung di bus lain. Suaranya samar, makin jauh dan hilang ditelan raung hiruk pikuk lalu lintas yang menyalak-nyalak minta didahulukan. sementara itu di ufuk barat mendung semakin menggelayut menunggu waktu untuk ditumpahkan ke bumi…

Kampung Tengah, 24 Februari 2009

Jam 19.41 wib


Mr. Pepenk Profile:.

Nama asli : Didik Revolusiyanto

Tempat & tgl. Lahir : Malang, 13 Juni 1968

Track Records :

1. Aktor teater Satu Merah panggung, tahun 1996.

2. Aktor teater Pas, tahun 1997

3. Pantomime, di Plaza Carefour, Goro, Plaza Senayan, tahun 1998

4. Sutradara teater Pedal, 1999

5. Juara 1 musik jalanan solo se Indonesia, tahun 2000

6. Juara 2 musik jalanan ukulele se Jabodetabek, TMII, tahun 2000

7. Acara dikampus, TIM, LSM dan umum dengan music ukulele Plesetan Nusantara, tahun 2001 – 2002

8. Astrada Teater Wijaya kusuma bersama Tio Jarot, tahun 2003

9. Peran pembantu di film Baju Baru untuk Rahmat, tahun 2004

10. Peran utama film independen berjudul “Untuk Nisa”, tahun 2004

11. Bintang tamu di Salon Oneng sebagai bapaknya banci, tahun 2005.

12. Sebagai hansip dalam film “Siluman Kera”, tahun 2005

13. Sebagai suami si Gendut dalam film “Dusun Kita”, tahun 2005

14. Sebagai si Karto dalam film garapan sutradara Hasan Bo, tahun 2005

15. Actor monolog terbaik versi FTI (Federasi Teater Indonesia), tahun 2007

16. Sebagai Penasihat pangeran dalam Bawang Merah Bawang Putih Bawang Bombay, Sutradara Yose Rizal manua, teater Tanah Air, tahun 2008

17. Juara group lawak di TMII, tahun 2007

18. Juara Favorit lawak monolog, radio SK, tahun 2005

Sunday, February 22, 2009

Save your children through Story Telling


Waktu ku kecil, ibu dan nenek selalu mendongengkan cerita kepada kami lima bersaudara sebelum tidur. Banyak dari dongeng-dongeng tersebut yang masih kuingat sampai saat ini, diantaranya si kancil mencuri ketimun, bawang merah bawang putih dan kisah petualangan mbah kung (kakek) dan mbah uti (nenek) pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Cerita-cerita tersebut begitu membekas dalam memori hingga seolah aku mengalami sendiri dan ikut terlibat di dalam alur ceritanya. Tanpa kusadari ada banyak pelajaran yang aku ambil sebagai pembelajaran dan pendewasaan dalam bersikap, bertutur dan bertindak dalam hidup. Sebuah dongeng yang kadang diceritakan secara berulang atau sambil terkantuk-kantuk oleh ibu atau nenek kita ternyata berimplikasi cukup luas walau kadang ia memasuki alam bawah sadar kita tanpa permisi namun ia tetap eksis walau secara tidak langsung dalam keseharian kita.

Waktu berputar dan berubah begitu cepat, kini dongeng tidak lagi mendominasi kehidupan kita digantikan oleh televisi yang menemani dari saat kita bangun tidur di pagi hari sampai kita hendak tidur lagi di malam hari. Dia mendominasi hari-hari tanpa bisa kita tolak karena selalu menyuguhkan segala hal dan dikemas dengan cukup menarik. Mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek dan nenek-nenek keranjingan sebuah kotak ajaib yang bernama televisi ini. Dia menghipnotis alam bawah sadar kita menjadi sosok-sosok yang mengagung-agungkan brand, mengagung-agungkan style yang pada ujung-ujungnya adalah market yang disulap dan dikemas dengan sangat menarik. Semua orang terpukau dan selalu ingin dan berupaya memiliki semua yang ditawarkan. Tujuan hidup menjadi tidak lagi luhur dan mulia melainkan kebendaan dan kepalsuan. Bahkan banyak diantara kita tidak tahu atau lupa tujuan hidup karena terlena dengan mimpi-mimpi yang ditawarkan oleh produsen. Kita dalam menjalani hari-hari seolah tidak berpijak di bumi, kita seolah melayang-layang pada realita abu-abu dan banyak yang meyakininya sebagai tujuan hidup. Sungguh memprihatinkan.

Satu dekade belakangan ini kita terlena dan terpesona oleh acara yang bernama sinetron. Ia hadir tidak lagi sebagai pelepas lelah namun menjadi keharusan. Dia hadir dalam setiap nafas yang kita hirup, dia menjual rasa penasaran dan membuat kita dengan rela harus menyisihkan waktu kita yang berharga untuk selalu setia di depan televisi mengikuti episode demi episode yang tak habis-habis. Ia menyeruak dan merasuk kedalam emosi dan pikiran. Ia mengobrak-abrik tatanan yang selama ini dibentuk para orang tua kita. Ia menguras air mata kita, ia menyulut emosi kita, ia gambaran hidup yang seolah nyata. Perubahan makna dari kehidupan yang religious, kebersamaan, cinta kasih dan tata krama berganti dengan kemarahan, dendam, hedonism, kepalsuan dan begitu banyak lagi norma-norma tak senonoh yang merasuki relung pikiran kita sebagai sebuah kewajaran. Ia datang bagai air bah, tak terbendung, suaranya memenuhi setiap sudut ruang dalam kehidupan. Pola pikir generasi menjadi seragam dan berjalan menuju satu titik yang sama yaitu pasar.

Para orang tua, para pendidik mulai khawatir dengan fenomena di atas namun banyak yang pasrah dan tidak melakukan apapun dengan membiarkan segalanya terjadi begitu saja. What will be will be … Namun ada juga yang mulai gelisah dan membuat aturan-aturan yang harus dipatuhi di dalam rumah dengan cara membatasi waktu anak-anak di depan televisi, menyaring apa yang boleh dan tidak ditonton. Namun berapa persen yang bisa terselamatkan oleh ganasnya arus globalisasi dan gombalisasi ini, mengingat sehari-hari anak selalu bergaul lebih lama dengan pembantu dari pada dengan orang tua yang dalam era persamaan gender sebagian besar perempuan bekerja lantaran persaingan hidup yang semakin sulit dan ketat? Ayo bertindak sebelum terlambat para bapak-bapak dan ibu-ibu, para pendidik, para sosiolog, pokoknya para bijak bestari semua …

Lamunan dan keresahan ini akhirnya melemparkan aku pada ingatan masa kecil yang begitu kebak dengan makna dan tawa. Berlarian bersama teman-teman di lapangan pada saat bulan purnama, bersekolah dengan kaki telanjang dan banyak lagi kenangan yang membekas yang kesemuanya jauh dari perasaan iri dan dengki, hanya kepolosan anak-anak. Dongeng, dongeng, dongeng dan dongeng, kata itu mengiang-ngiang ditelinga pikirku. Sebuah media pendidikan bermuatan tatakrama, agama dan hal-hal positif lain tanpa ada embel-embel iklan. Di sini anak-anak diajak berimajinasi, diajak berkspresi berdasarkan kapasitas masing-masing. Anak tidak lagi kita suguhkan sesuatu yang instan dan tinggal Leb (kayak iklan makanan aja, he3x). Anak-anak belajar jadi tahu dengan proses berpikir dan bukan tahu karena disodorkan didepan matanya tentang sebuah kebenaran yang relative. Ya, dongeng adalah alternative penyembuh dari keseragaman pikir yang selama ini memang dimau oleh pasar. Ayo, semua para bapak, ibu, kakak, kakek, nenek atau siapapun dia yang punya konsen terhadap kebangkitan generasi yang mandiri, ini saatnya kita menghidupkan dongeng dalam kehidupan anak-anak. Kita bawa anak-anak kealam imajinasi dan pemikiran yang konstruktif. Kalau semua setuju, let’s get up and turn off you television …

Kampung Tengah, 22 Februari 2009

Pukul 19.40 wib

Friday, February 20, 2009

CINTA SEJATI



Cinta sejati itu putih, tulus, memberi dan tanpa mengharapkan imbal balik sekecil apapun. Ikhlas, mungkin adalah kata yang tepat untuk itu. Cinta datang kepada siapa saja tanpa permisi, tanpa diundang. Dia datang kepada siapa saja tanpa membedakan asal usul, gender, usia, ras, agama bahkan tidak hirau apakah itu binatang, manusia atau apapun jenisnya. Dia menghampiri, menyalami, menegur, memeluk dan merasuk, menyatu dengan raga, juga jiwa.

Ketika kamu mencintai seseorang tetapi berharap sesuatu balasan maka kamu belum sepenuhnya mencintai. Masih ada nafsu di dalam dirimu yang berkedok cinta. Dia adalah ego yang tersenyum diawal dan meradang ketika tidak mendapatkan apa yang diharap. Cinta dalam tanda kutip yang seperti ini adalah temporer, tidak abadi. Dia tidak tahan terhadap cuaca kehidupan yang fluktuatif. Dia adalah obsesi.
Cinta sejati tidak datang dalam sesaat, dia butuh pembelajaran, dia butuh beradaptasi dengan lingkungan, dia seperti seluruh makhluk hidup bertumbuh, berkembang dan menghablur dalam kedewasaan bersikap dan bertindak.

Cinta sejati adalah hamparan padang luas, bentangan samudra tanpa batas. Dia menembus apa dan siapa saja tanpa bisa kita duga dan kira. Dia universal. Dia tidak membedakan antara cinta si A di Negara Eropa yang maju dengan cinta si C dari negeri termiskin dibelahan bumi Afrika. Dia mempunyai definisi yang sama yang tidak bisa habis dibahas dan digali.

Cinta sejati selalu jadi tema dan pencarian dalam bentangan kurun jaman. Dia dikejar dan dicari oleh semua makhluk namun sayang tidak semua bisa menemukan apa yang dicari walau sampai lembar akhir buku hidup ditutup. Sejatinya dalam hidup adalah mengumpulkan butiran-butiran Kristal cinta yang tersebar disepanjang kehidupan yang kita lewati. Apakah kita menyadari dan memungutinya?

Kampung Tengah, 18 Februari 2009
Jam 11.34 wib.

Menggugat Sistem Pendidikan