WIWIN DONGENG MANAGEMENT FANS

Kawah Kepemimpinan Pelajar Kemendikbud 2017

Live with Passion by Winson the Storyteller Family

Corruption - The Poison In Our Air?

Timun Emas

Aksi Teatrikal Keuarga Pendongeng

Miss Wiwin & Anabel di Idenesia Metro TV

Winson The Storyteller Family

"Timun Emas" Folkrock Mini Opera

Que Sera Sera by Anabel Pendongeng Cilik

Dongeng Radio si Tupai dan si Monyet

Anabel La Winson - What a Wonderful World

Contoh Ice breaking dongeng rock & roll kak Sony Key & Miss Wiwin

Sunday, February 22, 2009

Save your children through Story Telling


Waktu ku kecil, ibu dan nenek selalu mendongengkan cerita kepada kami lima bersaudara sebelum tidur. Banyak dari dongeng-dongeng tersebut yang masih kuingat sampai saat ini, diantaranya si kancil mencuri ketimun, bawang merah bawang putih dan kisah petualangan mbah kung (kakek) dan mbah uti (nenek) pada masa penjajahan Belanda dan Jepang. Cerita-cerita tersebut begitu membekas dalam memori hingga seolah aku mengalami sendiri dan ikut terlibat di dalam alur ceritanya. Tanpa kusadari ada banyak pelajaran yang aku ambil sebagai pembelajaran dan pendewasaan dalam bersikap, bertutur dan bertindak dalam hidup. Sebuah dongeng yang kadang diceritakan secara berulang atau sambil terkantuk-kantuk oleh ibu atau nenek kita ternyata berimplikasi cukup luas walau kadang ia memasuki alam bawah sadar kita tanpa permisi namun ia tetap eksis walau secara tidak langsung dalam keseharian kita.

Waktu berputar dan berubah begitu cepat, kini dongeng tidak lagi mendominasi kehidupan kita digantikan oleh televisi yang menemani dari saat kita bangun tidur di pagi hari sampai kita hendak tidur lagi di malam hari. Dia mendominasi hari-hari tanpa bisa kita tolak karena selalu menyuguhkan segala hal dan dikemas dengan cukup menarik. Mulai dari anak-anak sampai kakek-kakek dan nenek-nenek keranjingan sebuah kotak ajaib yang bernama televisi ini. Dia menghipnotis alam bawah sadar kita menjadi sosok-sosok yang mengagung-agungkan brand, mengagung-agungkan style yang pada ujung-ujungnya adalah market yang disulap dan dikemas dengan sangat menarik. Semua orang terpukau dan selalu ingin dan berupaya memiliki semua yang ditawarkan. Tujuan hidup menjadi tidak lagi luhur dan mulia melainkan kebendaan dan kepalsuan. Bahkan banyak diantara kita tidak tahu atau lupa tujuan hidup karena terlena dengan mimpi-mimpi yang ditawarkan oleh produsen. Kita dalam menjalani hari-hari seolah tidak berpijak di bumi, kita seolah melayang-layang pada realita abu-abu dan banyak yang meyakininya sebagai tujuan hidup. Sungguh memprihatinkan.

Satu dekade belakangan ini kita terlena dan terpesona oleh acara yang bernama sinetron. Ia hadir tidak lagi sebagai pelepas lelah namun menjadi keharusan. Dia hadir dalam setiap nafas yang kita hirup, dia menjual rasa penasaran dan membuat kita dengan rela harus menyisihkan waktu kita yang berharga untuk selalu setia di depan televisi mengikuti episode demi episode yang tak habis-habis. Ia menyeruak dan merasuk kedalam emosi dan pikiran. Ia mengobrak-abrik tatanan yang selama ini dibentuk para orang tua kita. Ia menguras air mata kita, ia menyulut emosi kita, ia gambaran hidup yang seolah nyata. Perubahan makna dari kehidupan yang religious, kebersamaan, cinta kasih dan tata krama berganti dengan kemarahan, dendam, hedonism, kepalsuan dan begitu banyak lagi norma-norma tak senonoh yang merasuki relung pikiran kita sebagai sebuah kewajaran. Ia datang bagai air bah, tak terbendung, suaranya memenuhi setiap sudut ruang dalam kehidupan. Pola pikir generasi menjadi seragam dan berjalan menuju satu titik yang sama yaitu pasar.

Para orang tua, para pendidik mulai khawatir dengan fenomena di atas namun banyak yang pasrah dan tidak melakukan apapun dengan membiarkan segalanya terjadi begitu saja. What will be will be … Namun ada juga yang mulai gelisah dan membuat aturan-aturan yang harus dipatuhi di dalam rumah dengan cara membatasi waktu anak-anak di depan televisi, menyaring apa yang boleh dan tidak ditonton. Namun berapa persen yang bisa terselamatkan oleh ganasnya arus globalisasi dan gombalisasi ini, mengingat sehari-hari anak selalu bergaul lebih lama dengan pembantu dari pada dengan orang tua yang dalam era persamaan gender sebagian besar perempuan bekerja lantaran persaingan hidup yang semakin sulit dan ketat? Ayo bertindak sebelum terlambat para bapak-bapak dan ibu-ibu, para pendidik, para sosiolog, pokoknya para bijak bestari semua …

Lamunan dan keresahan ini akhirnya melemparkan aku pada ingatan masa kecil yang begitu kebak dengan makna dan tawa. Berlarian bersama teman-teman di lapangan pada saat bulan purnama, bersekolah dengan kaki telanjang dan banyak lagi kenangan yang membekas yang kesemuanya jauh dari perasaan iri dan dengki, hanya kepolosan anak-anak. Dongeng, dongeng, dongeng dan dongeng, kata itu mengiang-ngiang ditelinga pikirku. Sebuah media pendidikan bermuatan tatakrama, agama dan hal-hal positif lain tanpa ada embel-embel iklan. Di sini anak-anak diajak berimajinasi, diajak berkspresi berdasarkan kapasitas masing-masing. Anak tidak lagi kita suguhkan sesuatu yang instan dan tinggal Leb (kayak iklan makanan aja, he3x). Anak-anak belajar jadi tahu dengan proses berpikir dan bukan tahu karena disodorkan didepan matanya tentang sebuah kebenaran yang relative. Ya, dongeng adalah alternative penyembuh dari keseragaman pikir yang selama ini memang dimau oleh pasar. Ayo, semua para bapak, ibu, kakak, kakek, nenek atau siapapun dia yang punya konsen terhadap kebangkitan generasi yang mandiri, ini saatnya kita menghidupkan dongeng dalam kehidupan anak-anak. Kita bawa anak-anak kealam imajinasi dan pemikiran yang konstruktif. Kalau semua setuju, let’s get up and turn off you television …

Kampung Tengah, 22 Februari 2009

Pukul 19.40 wib

No comments:

Post a Comment

Menggugat Sistem Pendidikan